Bisnis Penyu Tempo Dulu yang Sangat Marak di Zaman Belanda

Pantai4d

Bisnis Penyu Tempo Dulu yang Sangat Marak di Zaman Belanda

PENYU menjadi satu dari ribuan spesies fauna yang menghiasi distrik laut Indonesia. Tetapi fauna yang dapat hidup puluhan tahun, bahkan konon ratusan tahun ini tidak jarang kali menjadi target perburuan liar. Setiap tahun pemerintah Indonesia berjibaku mengagalkan penyelundupan penyu-penyu yang bakal dikirim ke luar negeri. Bisnis Penyu Tempo Dulu yang Sangat

Dilansir dari laman kkp.go.id, melulu tersisa 7 spesies penyu di dunia, dan Indonesia menjadi rumah untuk 6 spesies di antaranya. Pemerintah juga telah menata pelarangan perburuan fauna laut ini dalam UU No.5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem, serta UU No.31 Tahun 2004 mengenai Perikanan.

Namun siapa sangka, fauna yang masuk dalam kelompok terancam punah dan dibentengi itu pernah diperjualbelikan secara legal di Indonesia.

Banyak Dicari
Pada pertengahan abad ke-17, pelabuhan-pelabuhan di Makassar ramai dengan kegiatan dagang berskala internasional. Terlebih sesudah VOC sukses menguasai Maluku dan mengandalkan Sulawesi sebagai di antara basis ekspedisi rempah-rempah mereka. Adalah wajar andai kemudian Makassar menjadi lokasi berkumpul kongsi dagang dari sekian banyak negara, laksana India, Tiongkok, dan Portugis.

Namun dari banyaknya kumpulan dagang yang ada, semua pedagang Tiongkok mempunyai pengaruh yang kuat. Mereka memegang kendali sarat atas sebanyak komoditi. Salah satunya barang mewah yang guna ukuran kini tak lazim dijual, yaitu tempurung penyu.

Tempurung penyu dari Nusantara sudah menjadi primadona untuk kekaisaran Tiongkok. Raja-raja yang bersangkutan baik dengan kaisar sudah menghadiahi tempurung penyu semenjak berabad-abad lalu. Catatan pelaut Tiongkok menyinggung penyu tidak jarang kali menjadi unsur dari upeti kerajaan Nusantara, dan semua kaisar paling menyukainya.

“Raja lantas menunjuk utusan guna membawakan sepucuk surat dan upeti yang berupa mahkota, penyu, merak, kapur barus, kamper, dan kain dari barat.” tulis W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa.

Orang-orang Tionghoa memakai tempurung penyu guna bahan membuat sekian banyak macam obat dan aksesoris yang paling bernilai. Masyarakat, tergolong kaisar, percaya bahwa penyu bisa menjadi obat panjang usia dan kebahagiaan. Sehingga tidak heran andai pedagang Tiongkok paling ketat mengawal transaksi barang mewah tersebut.

Namun ternyata tidak melulu orang-orang Tionghoa saja yang terpikat dengan tempurung penyu dari Sulawesi ini. Para pelaut Inggris dan Portugis juga berjuang mendapatkannya sebagai bahan perniagaan ke distrik India dan Eropa. Persaingan juga tidak terhindarkan salah satu pedagang asing ini.

Berdasarkan catatan-catatan pelaut Portugis yang dimuat Trade, Court, and Company: Makassar in the Later Seventeenth and Early Eighteenth Centuries karya H.A. Sutherland diketahui bahwa pekerjaan perdagangan tempurung penyu ke Malaka, yang nantinya tersebar ke Eropa, bukanlah urusan baru di Sulawesi. Kegiatannya telah dibuka sejak pertengahan abad ke-14.

Barulah pada mula abad ke-17, permintaan komoditi ini bertambah pesat. Wilayah Gujarat, India, tiba-tiba mengemukakan pembelian tempurung penyu dari Nusantara dalam jumlah yang besar. Permintaan dari Gujarat itupun kesudahannya melibatkan orang-orang Eropa di dalamnya.

“Keuntungan yang didapat dari perniagaan ini unik minat semua pedagang Inggris untuk pun turut ambil bagian.” tulis Yerry Wirawan dalah Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar dari Abad ke-17 sampai ke-20.

Belanda Ambil Bagian
Pada 1616, kamar dagang Belanda menjadi penyalur utama penjualan tempurung penyu dari Sulawesi, Kalimantan, Sumatera eksklusif untuk area Eropa. Demi memuluskan jalannya, mereka menjalin hubungan baik dengan orang-orang Tionghoa sebab saat tersebut para saudagar Tionghoa di Sulawesi sudah menyusun serikat dagang guna menguasai komoditi hobi kaisar ini.

Edward L. Poelinggomang dalam Makassar Abad XIX: Studi mengenai Kebijakan Perdagangan Maritim menuliskan pedagang Tionghoa tidak dirasakan sebagai ancaman oleh VOC. Kepentingan saudagar Tionghoa atas sejumlah produk, khususnya produk laut, tidak menakut-nakuti monopoli rempah-rempah mereka. Oleh karena tersebut pedagang Tionghoa dirangkul sebagai mitra.

Hingga tahun 1617, diduga Belanda telah dapat menjual antara 4.000 hingga 5.000 tempurung penyu masing-masing tahunnya. Jumlah tersebut sangat besar bila dikomparasikan dengan negara manapun yang menjadi pesaing dagangnya.

Sekitar tahun 1650 hingga 1660, semua pedagang Tionghoa menjadi pengatur proses jual beli penyu antara masyarakat sebagai pemburu, dengan orang Belanda sebagai pembeli. Keduanya jangan bertemu secara langsung. Transaksi mesti dilaksanakan melalui kumpulan pedagang Tionghoa.

“Pedagang Inggris mengeluhkan bahwa mereka tidak dapat membeli barang barang-barang ini langsung dari semua pengumpulnya dan mesti melalui orang Tionghoa sebagai saudagar perantara.” kata Yerry.

Untuk proses pendataan tempurung penyu, saudagar Tionghoa memanfaatkan keterampilan masyarakat Bugis. Peran suku pesisir tersebut begitu besar dalam perburuan fauna laut ini. Tempurung penyu dari familia Cheloniidae, laksana penyu sisik,menjadi yang paling tidak sedikit diburu ketika itu.

Banyak cara dapat dilakukan guna melepas tempurung dari tubuh penyu. Orang-orang Bugis melakukannya dengan teknik memukul kepala penyu sampai mati. Kemudian penyu-penyu itu tidak dipedulikan membusuk supaya tempurungnya gampang dilepas.

Dalam di antara artikelnya, berjudul “Pluralism and Progress in Seventeenth-Century Makassar”, Anthony Reid menyinggung orang-orang Bugis menciptakan kontrak dengan orang Tionghoa guna proses perniagaan tersebut. Namun tidak secara langsung, tetapi melewati penguasa Makassar.

Sehingga keterlibatan masyarakat Bugis dalam perburuan tempurung penyu secara tidak langsung diakibatkan oleh hubungan baik semua penguasa yang memerintah di lokasi tinggal mereka dengan saudagar Tionghoa. Bisnis Penyu Tempo Dulu yang Sangat